Berlibur Ke Kintamani Bali

Kintamani berada di bibir sebuah kaldera raksasa yang tercipta ribuan tahun yang lalu. Di dalam kaldera tersebut terdapat sebuah danau dan sebuah gunung berapi aktif yang memiliki nama yang sama, Danau Batur dan Gunung Batur.

Daya tarik Kintamani terletak pada keindahan Danau Batur yang merupakan bagian terendah dari kaldera raksasa yang karena posisinya akhirnya kemudian terisi air dan menjadi danau.

Di dalam kaldera raksasa yang secara kasat mata berbentuk seperti mangkuk tersebut selain terdapat Danau Batur juga terdapat Gunung Batur, si pemilik kaldera. Kawasan di seputar gunung nampak tandus dan menghitam akibat letusan, sangat kontras dengan kehijauan hutan di sekelilingnya.

Sejumlah kecil wisatawan turun ke daerah dataran yang berada di bibir pantai. Selain lahan pertanian dan desa nelayan, di dataran yang hanya sedikit lebih tinggi dari permukaan danau itu juga terdapat beberapa penginapan.

Daerah tandus bekas letusan Gunung Batur merupakan salah satu favorit fotografer yang ingin mengabadikan model dengan latar belakang pemandangan yang unik. Terdapat juga sebuah camping ground, lahan berkemah, yang juga sering dipakai para pendaki gunung sebagai basecamp. Pemandian air panas alam dan Pura Ulun Danu Beratan juga menarik untuk disinggahi.

Untuk mengisi perut, ada sejumlah restoran dan warung di sepanjang tepi jalan di Penelokan dimana kita bisa bersantai menikmati hidangan sambil menikmati keindahan panorama Gunung dan Danau Batur. Di tepi danau juga terdapat beberapa restoran dan warung.

Meskipun masing-masing menyajikan berbagai macam hidangan, salah satu yang khas di kawasan ini adalah aneka masakan ikan mujair segar hasil budidaya petani dengan meggunakan keramba apung di Danau Batur.

Hal lain yang menarik dari Kintamani adalah Trunyan, sebuah desa yang berada di seberang danau dan hanya bisa dicapai dengan menggunakan perahu menyebrangi danau.

Di desa yang masih sangat tradisional bahkan cenderung terbelakang ini jenazah orang yang sidah meninggal tidak dikubur atau dibakar seperti kebanyakan masyarakat Hindu di Bali, melainkan diletakkan begitu saja di bawah sebuah pohon besar. Konon aroma dari pohon itu sanggup menawarkan bau yang biasanya menyebar dari mayat yang membusuk.

Sayangnya lagi-lagi daya tarik wisata unik ini juga diselimuti cerita yang kurang sedap sehingga banyak wisatawan yang meskipun sangat penasaran memilih untuk mengurungkan niatnya berkunjung ke Desa Trunyan. Konon banyak wisatawan yang dirampok pada saat menyebrangi danau dengan menggunakan perahu.

Related Posts

Add Comment